Transformational Leadership Menuju BPR BANK DAERAH KOTA MADIUN yang Sehat, Produktif, Manfaat

Transformational Leadership Menuju BPR BANK DAERAH KOTA MADIUN yang Sehat, Produktif, Manfaat Bagi Segenap Pemangku Kepentingan Dalam Menunjang Pertumbuhan Ekonomi Daerah

 (Proposal Makalah Dalam Rangka Proses Seleksi Calon Direktur Utama Perusahaan Umum Daerah Bank Perkreditan Rakyat Bank Daerah Kota Madiun)

Dibuat Oleh:

Wahyudi Hari Siswanto

Bank Perkreditan Daerah punya peran strategis dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat di suatu wilayah. Jika statusnya perusahaan umum daerah, maka peran strategis tersebut bisa disinergikan dengan program pemerintah daerah terutama dari sisi penyaluran kredit untuk menggerakkan sektor ekonomi utamanya bagi pelaku UMKM yang mendominasi sektor riil di masyarakat.

Visi: Transformational Leadership Menuju BPR yang Sehat, Produktif, Manfaat Bagi Segenap Pemangku Kepentingan Dalam Menunjang Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Misi:

  1. Menciptakan budaya kerja yang sehat dan produktif
  2. Menekankan pola pikir bertumbuh (growth mindset) di segenap jenjang organisasi
  3. Orientasi pelayanan demi meraih pertumbuhan dan laba perusahaan
  4. Fokus segmentasi UMKM

Tujuan: Menjalankan fungsi intermediasi bank, menerima simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat melalui mekanisme yang benar menuju pertumbuhan BPR yang sehat, produktif, manfaat dalam menunjang pertumbuhan ekonomi daerah

Pendahuluan

Sektor  usaha  kecil  memiliki  peran  yang  cukup  besar  dalam  pengembangan perekonomian  nasional.  Sektor  ini  banyak  menyerap  tenaga  kerja,  dan  meningkatkan penghasilan  masyarakat.  Sektor  usaha  kecil  juga  merupakan  penghasil  barang  dan  jasa kebutuhan  masyarakat  dengan  harga  yang  terjangkau,  dan  juga  merupakan  sumber devisa negara yang potensial.

Namun   keberadaan   usaha   kecil   tidak   terlepas   dari   beberapa   permasalahan. Permasalahan  utama  yang  dihadapi  oleh  usaha  kecil  adalah  persoalan permodalan dan sulitnya akses terhadap sumber-sumber pembiayaan  dari  lembaga  keuangan  formal khususnya perbankan, dan kecilnya kesempatan mendapat peluang usaha.

Selain itu juga ada  masalah  produksi,  pemasaran,  dan  teknologi.  Sulitnya  akses  usaha  kecil  terhadap lembaga keuangan formal ini disebabkan karena proses di perbankan dirasa terlalu rumit dan persyaratan yang disyaratkan sukar untuk dipenuhi oleh usaha kecil.

Persoalan yang dihadapi oleh usaha kecil

Menurut (Feriyanto, 1995) Kendala yang dihadapi usaha kecil di Indonesia adalah :

  • Sebagian besar pengusaha kecil tidak memiliki sistem akuntansi yang memadai, sehingga pengusaha kecil tidak mempunyai akses terhadap jasa perbankan, karena prosedur di perbankan dirasa terlalu rumit dan dokumen yang disyaratkan sukar untuk dipenuhi
  • Pada umumnya pengusaha kecil kesulitan dalam meningkatkan kualitas produk, baik karena tingkat teknologinya yang masih tradisional ataupun belum adanya kontrol kualitas yang memadai
  • Didukung oleh pemasaran yang kuat karena memiliki informasi pasar yang lebih baik ke dalam ataupun ekspor, pengusaha besar akan menjepit dan mempersempit ruang gerak (market share) pengusaha kecil
  • Karena usaha kecil banyak yang bersifat perusahaan keluarga, maka pengelolaan keuangannya masih kurang baik. Laba usaha sebagian besar digunakan untuk konsumsi
  • Banyak pengusaha kecil tidak mempunyai jaminan (agunan) sehingga dalam mengajukan kredit perbankan cukup kesulitan

Rencana Strategis:

Transformational leadership ialah pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mentransformasikan secara optimal sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi untuk mencapai sebuah tujuan dan target yang telah ditentukan.

Pemimpin transformasional juga mampu mengubah mental dan perilaku pengikutnya menjadi lebih baik.

Langkah konkret yang akan dilakukan untuk membangun team work yang kuat pada jajaran direksi, manajemen dan karyawan:

  1. Evaluasi awal tahun terkait kesiapan SDM, kecukupan struktur organisasi, dalam mencapai Rencana Bisnis Bank
  2. Konsolidasi dengan segenap jajaran manajemen dan karyawan terkait 4 misi diatas agar arah pengembangan bisnis bisa sejalan
  3. Menetapkan mekanisme kontrol evaluasi kinerja bisnis untuk setiap paramater (funding, lending, operational) yang akan di “break down” menjadi KPI tiap karyawan secara terukur dalam rentang waktu yang ditentukan (bulanan menuju tahunan)

Ide Pengembangan Bisnis dan Inovasi

Transformational leadership mencerminkan sikap suatu kepemimpinan partisipatif yang tidak hanya mampu memotivasi dan menggerakkan organisasi secara vertical dan horizontal, namun juga mewujudkan suatu kapasitas organisasi yang senantiasa adaptif di setiap keadaan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun mencatat pertumbuhan ekonomi di wilayah setempat pada tahun 2021 mencapai 4,73 persen. BPR Kota Madiun harus memiliki peran aktif mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi ke depannya dari sisi permodalan dan pendampingan UMKM.

Tahun 1: Konsolidasi dan sinergi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia dan Organisasi

Evaluasi struktur organisasi dan kecukupan SDM di dalamnya. Struktur dan SDM harus bisa menunjang konsep pola pikir “growth mindset” demi menciptakan produk dan layanan yang selalu lebih berkualitas, lebih murah, lebih cepat (better Quality, Cost, Delivery). Hal ini erat kaitannya dengan ketrampilan SDM, proses standar operasional dan bantuan teknologi.

Evaluasi kompetensi karyawan dan rencana peningkatan kompetensi dan penempatan yang sesuai dengan kompetensinya

Tahun 2: Manajemen Pemasaran dan Teknologi Informasi

Produk yang sama dipasarkan dengan cara yang berbeda. Cara pemasaran saat ini mulai merambah ke pemasaran digital. Jika produk sudah jenuh perlu inovasi produk baru. Perlu PIC yang konsisten mengelola saluran pemasaran baru tersebut. Idealnya dalam bentuk tim terdiri dari minimal 1 AO bekerja sama dengan IT. Rencana pemasaran dan target perlu dibuat dan di evaluasi agar hasilnya maksimal.

Tahun 3 Manajemen Operasi Keuangan dan Akuntansi

Manajemen operasi harus bisa mendukung produk dan layanan yang selalu lebih berkualitas, lebih murah, lebih cepat (better Quality, Cost, Delivery). Hal ini erat kaitannya dengan ketrampilan SDM, proses standar operasional dan bantuan teknologi. Prinsip dasar manajemen operasi adalah melayani, bagian penting dalam internal bisnis control serta memberi evaluasi dan panduan agar bisnis sesuai dengan rencana atau bahkan lebih baik dari yang direncanakan.

Tahun 4 Pengembangan Portofolio Bisnis

Portofolio bisnis idealnya terdiri dari aset produktif dengan kualitas baik. Aset terbesar dari bisnis BPR adalah KYD (Kredit yang disalurkan) Komposisi kredit ideal setidaknya memiliki nasabah kategori lancar minimal 85 % dan NPL dibawah 5 % dengan pertumbuhan kredit 1,5 x rata-rata pertumbuhan bisnis BPR di wilayah setempat. Penempatan Dana Pihak Ketiga harus bisa mendukung pertumbuhan bisnis BPR dan menjadi penyeimbang berbagai rasio keuangan yang ada agar tetap sehat.

Tahun 5 Perencanaan Strategis dan Mitigasi Resiko

Sesuai dengan misi ke empat, Bisnis BPR akan berorientasi pada pengembangan UMKM di wilayah kerja BPR. Perkembangan tata kota madiun yang agresif dengan berbagai spot wisata kota dan sentral bisnis UMKM terutama kuliner perlu dukungan yang baik dari perbankan. BPR perlu ambil peran besar pada bidang pengembangan sektor ini.

Sistem pemasaran dan pengembangan bisnis dalam bentuk jaringan kantor cabang/kas, agen dalam bentuk komunitas lebih cocok untuk pendekatan pola bisnis segmen UMKM ini. Tidaklah rumit dalam membuat perencanaan strategis pengembangan model jaringan kantor cabang/kas seperti ini.

Untuk bidang bisnis, mitigasi risiko yang dilakukan bisa dalam bentuk standar minimal jaringan kantor bisa dibuka dan evaluasi 1,3,5 tahun untuk memutuskan apakah bisa berlanjut atau tidak. Sedangkan untuk kontrol operasional bisa dalam bentuk kontrol berjenjang dengan kelipatan 3, artinya setiap 3 kantor dikontrol pejabat sekelas area manager untuk memastikan kontrol bisnis berjalan.

Penutup

Bank Perkreditan Rakyat seiring berjalannya waktu harus bisa beradaptasi dengan perubahan kondisi bisnis di dalam masyarakat sekaligus adaptif terhadap perubahan teknologi dan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, perlu perencanaan strategis dalam menjalankan usaha serta konsolidasi yang kuat di dalam internal organisasi itu sendiri. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah bersinergi dengan pemerintah daerah dan mendukung program pemerintah daerah demi terwujudnya pertumbuhan ekonomi demi masyarakat yang lebih sejahtera dalam koridor BPR yang tumbuh, sehat dan produktif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *