Pro dan Kontra: 4 Karakteristik Umum dari Startup FinTech

Fintech atau financial technologi belakangan ini seolah member solusi bagi sebagian besar masyarakat yang membutuhkan layanan keuangan namun secara profil keuangan mereka tidak masuk dalam kategori yang dipersyaratkan bank (unbankable). Fintech pada prakteknya biasnya merupakan perushaan rintisan yang menawarkan pinjaman online dan juga investasi online kepada masyarakat dengan bantuan platform digital. Di Indonesia sendiri, ada fintech yang sudah punya ijin namun ada juga yang belum. Hehadirannya juga masih menimbulkan pro dan kontra.

Ada baiknya sebelum menggunakan layanan fintech ini, tujuh karakteristik umum dari startup FinTech berikut ini perlu Anda ketahui:

1) Memiliki tim manajemen yang kecil

Kekurangan: Tim yang lebih kecil memiliki kapasitas terbatas untuk menangani berbagai tugas yang diperlukan untuk mempertahankan operasi pemberian pinjaman baru. Tim yang lebih kecil sering mengalami kendala dari sisi penangan masalah dan keluhan yang muncul.

Kelebihan: Tim manajemen yang kecil membuat startup FinTech mampu membuat keputusan lebih cepat dan mengeksekusi lebih cepat. Mereka dapat; secara efektif memimpin perusahaan yang gesit yang berada pada posisi yang baik untuk berubah mengikuti kebutuhan pasar, dan berkreasi berdasarkan kebutuhan dan umpan balik pelanggan.

2) Nominal penyaluran kredit terbatas dan pengalaman menghadapi masalah juga minim

Kelemahan: pengalaman kredit yang minim atau bahkan level pemula bisa jadi membuat fintech tidak memiliki pemahaman penuh tentang aturan yang mengatur pemberian kredit kepada konsumen dari sudut pandang peraturan. Misalnya, pengalaman atau pengetahuan yang terbatas dalam menggunakan dan mengelola portofolio data nasabah atau dalam menilai kelayakan kredit konsumen bisa berpotensi menimbulkan resiko penyaluran kredit yang tidak tepat atau bahkan menimbulkan resiko kredit macet.

Kelebihan: Perusahaan FinTech tidak terjebak dalam kerangka kerja perusahaan jasa keuangan tradisional yang menentukan bagaimana model kredit digunakan atau bagaimana mereka menjamin pelanggan. FinTech dapat memikirkan masalah kredit melalui serangkaian sudut padang yang berbeda dan tentu saja berbasis teknologi digital masa kini. Hal ini bisa mengarah pada inovasi seperti menggunakan informasi pendidikan atau data media sosial untuk membantu menetapkan da mengukur parameter risiko yang bisa saja muncul ke depannya.

Demam Fintech, Apa Saja yang Perlu Dipahami Nasabahnya?

Layanan fintech kini makin populer. Layanan yang mudah memang diciptakan untuk memperluas literasi atau pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan. Jika sudah paham, tentu akses masyarakat terhadap produk keuangan pun akan meningkat. Makin boomingnya layanan fintech ini perlu diiringi dengan pemahaman nasabah tentang karakteristik dari start up ini agar tidak menimbulkan permasalahan dikemudian hari:

Minimnya sumber keuangan (funding) dan besarnya permintaan pinjaman (kredit)

Kelemahan: Minimnya sumber daya keuangan dan besarnya permintaan kredit dapat menjadi kendala startup fintech untuk berkembang secara masiv (skala besar). Seringkali mereka tidak dapat menaikkan level skala bisnis ke tingkat berikutnya.

Kelebihan: Sumber daya keuangan yang terbatas menyebabkan startup FinTech berjalan ramping. Mereka fokus pada calon nasabah potensial saja yang memungkinkan mereka untuk mendapatkan kualitas nasabah yang layak. Dan, karena mereka ditantang dengan cara ini, pengusaha FinTech sering berpikir berbeda dengan kreditur pada umumnya. Hasilnya juga aka terlihat setidaknya dalam satu dekade nanti.

Segmen pasar yang tidak teridentifikasi atau model bisnis yang tidak berkembang

Kelemahan: tanpa model bisnis yang dirancang dengan baik, startup FinTech tidak dapat membawa produk mereka untuk bisa berkembang diantara ceruk pasar yang kompetitif. Tanpa segmentasi dan target pasar yang ditentukan, lebih sulit bagi fintech untuk menentukan ukuran peluang dan menawarkan peluang itu kepada investor. Selain itu, tanpa model bisnis yang spesifik, cukup sulit bagi fintech untuk mitigasi dari sudut pandang risiko kredit.

Kelebihan: Menentukan target pasar dan mengembangkan model bisnis sering kali menjadi hal pertama yang menjadi fokus startup FinTech. Keuntungan dari belum melakukan ini adalah bahwa startup dapat dengan mudah berporos ke konsep lain, model bisnis atau target pasar yang sudah ada setiap kali ada kesempatan.

—–==========

Artikel 2

Transformasi Gaya Hidup Modern dari Uang Tunai Menuju ke Uang Elektronik, Apa Saja Plus Minusnya?

Uang elektronik atau lebih dikenal dengan e-money adalah bentuk uang modern di mana semua transaksi keuangan dilakukan secara elektronik. Tumpukan uang kertas digantikan oleh kartu pintar kecil atau bahkan smart phone yang tidak hanya memberi kita uang tetapi juga menyediakan banyak layanan.

Uang Tunai vs Uang Elektronik

Konsep e-money belum juga berumur satu decade, namun fleksibilitas dan keandalannya telah membuatnya menjadi hit dan makin populer. Teknologi digital telah merevolusi kehidupan manusia. Penggunaan internet membuka dimensi baru dalam merubah gaya hidup manusia di masa kini, termasuk dalam melakukan transaksi keuangan baik untuk urusan pembayaran sehari-hari maupun untuk transaksi bisnis.

E-money pada akhirnya berfungsi seperti uang kertas tanpa risiko dengan segala kenyamanan yang diberikan yang mungkin tidak bisa terjadi jika menggunakan uang tunai. Tidak seperti uang tunai, e-money dapat melakukan tranksaksi tanpa batasan jarak dan waktu antara dua pihak secara online. Transaksi elektronik bisa dalam berbagai bentuk dan model, mulai dari kartu pintar e-money Brizzi, T-Cash, truemoney, i-saku, maupun model klasik kartu kredit yang bisa digunakan tanpa perlu saldo di awal transaksi.

Sebagai gambaran, saat ini, 90% dari total transaksi keuangan di AS dilakukan melalui sistem pembayaran berbasis komputer. Fakta ini cukup untuk membuktikan semakin populernya e-money daripada uang tunai. Kemajuan di berbagai bidang teknologi telah membuat penggunaan uang elektronik makin popular dilakukan secaradengan berbagai keuntungan sebagai berikut:

  • Transaksi yang andal dan cepat dengan biaya rendah per transaksi;
  • Teknologi digital yang lebih baik dan ramah pengguna.
  • Sistem keamanan yang lebih baik untuk mencegah penipuan dan memastikan privasi terjaga
  • Pengguna layaknya memiliki fasilitas perbankan 24 jam.
Mengapa orang makin banyak yang tergoda menggunakan uang elektronik?

Selain kemudahan dan kenyamanan dalam bertransaksi, provider e-moey seringkali menawarkan banyak program promo dan diskon bagi penggunanya. Kita ambil saja beberapa contoh Promo Terbaru berikut ini:

  • Hangout Jadi Maksimal di Warunk Upnormal dari digibank periode 21 Sep – 31 Aug 2019
  • Cashback 10% for all F&B dari OVO periode 6 Nov – 23 Jan 2019
  • Bayar Tagihan Cashback Hingga 50% Pake TCASH periode 21 Dec – 10 Jan 2019
  • Promo Pertamina Surprise CASHBACK hingga 30% periode 15 Oct – 31 Jan 2019
  • Buy 1 Get 1 Kopiko 78’C Pake TCASH di Familymart periode 6 Dec – 31 Jan 2019

Berbagai promo diatas secara tidak langsung akan menggiring masyarakat untuk maki terbiasa dan bahkan makin tergantung menggunakan uang elektonik untuk kedepannya.

Apa sajakah yang perlu diperhatikan saat melakukan transaksi keuangan dengan e-money?

Walaupun aman dan nyaman, e-money tidak bebas sepenuhnya dari resiko fraud atau tindakan kriminal lainnya. Karena semua detail Anda dibuat secara online, beberapa penyusup dalam hal ini lebih dikenal sebagai hacker selalu mencari celah keamanan bagi pengguna transaksi digital yang ceroboh alias tidak mengikuti prosedur kemanan yang diberikan oleh provider e-moey tersebut. Msalah paling sepele yang kadang sering dilupakan adalah penggunaan pin atau password yang terlalu simple, sederhana dan jarang diganti sehingga memudahka hacker untuk melakukan tindakan fraud memanfaatkan celah tersebut.

Karena transaksi e-money bisa berlangsung dalam skala global, maka beberapa isu berikut ini perlu menjadi perhatian bersama, baik oleh pengguna transaksi maupun penyelenggara (provider) e-money itu sendiri:

  • Masalah keamanan data dan ancaman penipuan
  • Ancaman terhadap resiko tersebarnya privasi informasi pribadi kepada pihak lain

Apapun kondisinya, saat ini transaksi dengan menggunakan uang elektronik sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup masa kini. Semakin banyak orang menggunakan layanan pembayaran elektronik ini karena mereka dapat mempermudah transfer uang dan melakukan transaski bisnis lebih mudah dan nyaman. Tinggal pemahaman mengenai prosedur kemanan yang perlu ditingkatkan oleh pengguna seiring berjalannya waktu.

Masa Depan UMKM di Daerah Ada di FinTech

Kemajuan teknologi kini telah merambah dalam dunia keuangan. Kehadiran Fin Tech (Financial technology) seperti amartha.com lambat laun bisa mengubah masa depan industri keuangan. Salah satu kendala perkembangan usaha mikro khususnya di daerah adalah tidak semua pelaku usaha bisa mendapatkan akses permodalan dari bank. Usaha mikro dengan kebutuhan modal usaha 3-5 jutaan, serasa cukup rumit jika di proses dengan administrasi dan analisa bank atau lembaga mikro lainnya. Disinilah Fin Tech hadir menjadi solusi.

Disisi lain, sebenarnya ada banyak orang yang punya dana lebih yang mungkin saja bingung dana mau ditempatkan dimana. Solusinya disimpan di bank. Bank akan menyalurkan dana bagi pelaku usaha yang membutuhkan modal usaha dengan skema kredit atau produk lainnya. Hasilnya usaha produk kredit akan dibagi untuk bank dan juga untuk orang yang menyimpan uangnya di bank. Fin Tech hadir sebagai alternatif menjadi media penyambung, pemilik dana lebih tersebut langsung terhubung ke pemilik usaha dengan bantuan teknologi.

Ciri khas teknologi adalah memberi manfaat lebih karena efisien dan canggih. Jika tidak demikian maka teknologi tidak akan terpakai, begitupun Fin Tech. Karena canggih dan efisien tersebut Fin Tech telah memangkas jalur penyaluran dana dari pemilik dana langsung ke pemilik usaha, tanpa melalui lembaga pengelola seperti bank tadi. Yang namanya jalur yang dipangkas tentu manfaatnya lebih besar bagi kedua belah pihak.

Manfaat FinTech bagi pelaku usaha adalah mudah mendapatkan akses, khususnya bagi pelaku usaha yang tidak bankable (tidak bisa memenuhi syarat administrasi kredit pada bank). Sedang bagi investor, seharusnya mendapatkan dana bagi hasil usaha yang lebih menarik karena terhubung langsung dengan pemilik usaha dengan bantuan teknologi jika dibandingkan lewat bank atau yang lainnya.

Bagaimana prakteknya selama ini? Saya menunggu posisi Fin Tech ini aman untuk dijalankan. Kemarin dapat khabar bahawa salah satu Fin Tech yang rajin promosi amartha.com sudah terdaftar di OJK. Setelah saya masuk system ada informasi yang cukup menarik. Fin Tech ini memberikan ilustrasi resiko kredit dan juga score kredit. Walau profil usaha relatif singkat namun secara tahap awal Fin Tech ini melakukan review usaha dari pemilik usaha yang mengajukan modal usaha sampai tahapan layak dibiayai menurut Fin Tech ini. Dalam membidik segmen modal kerja fin tech ini juga sangat spesifik. Mitigasi resiko yang lainnya, Fin Tech ini memint a pemilik usaha untuk tergabung dalam kelompok kecil usaha sehingga bisa saling membantu dan juga bekerja sama agar modal kerja yang diterima nantinya bisa lancar sampai proses pelunasan. Hasilnya cukup fantastis seperti salah satu fin tech berikut ini yang sudah menyalurkan modal usaha sejak 2010 dengan kinerja sebagai berikut:

  • TOTAL DISALURKAN: Rp. 88,610,360,000
  • MITRA USAHA TERDANAI: 35232 pelaku usaha
  • ANGSURAN TEPAT WAKTU: 98.1 %

Hebatnya lagi, sejak berjalan 2010, sepertinya tidak banyak (atau bahkan tidak ada ya…) marketing dan kolektor yang terlibat, selain teknologi itu sendiri. Untuk bergabung atau ingin mendapatkan manfaat dari tren ekonomi digital masa depan ini cukup simple, jika anda bisa akses facebook, disitu anda bisa juga jadi bagian Fin Tech itu sendiri.

Jadi, makin bertumbuhnya fin tech otomatis ikut mendongkrak perekonomian UMKM di daerah khususnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.