Mengenal Pembayaran Elektronik, Cara Aman Transaksi Tanpa Takut Kehilangan Privasi

Selama ini ada semacam kekhawatiran dari sebagian orang saat harus memberikan detail kartu kredit atau debit secara online untuk tujuan transaksi. Kini kekhawatiran itu bisa saja mulai sirna. Ada opsi lain transaksi pembayaran elektronik dengan membuka akun e-money dari perusahaan pembayaran seperti PayPal atau Google Checkout. Namun demikian, bagi yang masih awam, ada beberapa hal yang berkecamuk di kepala dan ingin mereka ketahui, diantaranya adalah:

  • Apa yang ditawarkan perusahaan pembayaran elektronik dan cara menggunakannya dan berapa biayanya?
  • Apa saja kekurangannya?
  • Mengapa orang menggunakan perusahaan pembayaran elektronik?
  • Apa yang harus dilakukan jika ada masalah dengan pembayaran atau pembelian?

Pembayaran online, cara aman melakukan pembayaran tanpa khawatir kehilangan privacy

Akun pembayaran elektronik menyediakan cara lain untuk mengirim dan menerima uang secara online. Kini semakin banyak orang menggunakan jasa perusahaan penyedia layanan pembayaran elektronik karena mereka dapat mempermudah transfer uang dan melakukan pembelian secara online. Dan itu juga berarti Anda tidak perlu membagikan detail kartu kredit atau debit yang selama ini menjadi kekhawatiran Anda.

Bagaimana cara kerja akun pembayaran elektronik tersebut?

Menggunakan perusahaan pembayaran elektronik berarti Anda tidak perlu memberikan rincian kartu kredit atau debit Anda saat berbelanja online. Ini mengurangi risiko penipuan. Ada dua cara utama agar akun pembayaran elektronik bekerja dengan baik, yaitu.

  1. Bayar uang ke akun e-money Anda menggunakan kartu pembayaran. Ketika Anda berbelanja online, uang itu dikurangkan dari saldo Anda – atau jika Anda menjual barang-barang, itu ditambahkan ke saldo Anda, atau
  2. Tautkan akun e-money Anda ke kartu pembayaran Anda. Tidak ada uang aktual di akun Anda. Saat Anda membeli secara online, perusahaan pembayaran elektronik menagih uang ke kartu Anda – atau membayarnya ke kartu Anda, jika Anda menjual barang.

Cara memilih perusahaan pembayaran elektronik khususnya untuk transaksi global antar negara

Dalam bisnis era digital ini, transaksi antar Negara sudah menjadi kebutuhan utama bagi pelakunya. Anda juga harus paham beberapa metode transaksi global tersebut. Jika masih pemula, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah memilih perusahaan pembayaran elektronik mana yang akan digunakan. Pilihan populer termasuk PayPal dan Google Checkout bisa jadi masuk dalam urutan teratas. Setelah Anda memilih perusahaan, sebagian besar Anda akan diminta untuk:

  • Siapkan akun – daftarkan detail akun Anda dan ikuti instruksi.
  • Hubungkan kartu bank – masukkan detail kartu kredit atau debit Anda.
  • Setelah mendaftar, Anda akan dapat membayar pembelian menggunakan detail akun baru Anda tersebut.

Berapakah biayanya?

Membuka akun pembayaran elektronik diatas ataupun melakukan transaksi jual beli biasanya gratis. Perusahaan-perusahaan ini menghasilkan uang dengan menagih ke provider pembayaran elektronik. Anda mungkin dikenakan biaya untuk melakukan atau menerima pembayaran dalam mata uang asing, atau jika Anda menghabiskan lebih banyak uang daripada yang Anda miliki.

Mengapa makin banyak orang menggunakan jasa perusahaan pembayaran elektronik?

Dalam kondisi perdagagan global seperti saat ini, segala penawaran yang memudahkan transaksi bisnis tentu saja makin banyak penggunanya. Berikut ini beberapa kelebihan menggunakan transaksi pembayaran elektronik yang perlu Anda ketahui:

  • Aman – Anda tidak perlu memberikan detail kartu Anda.
  • Cepat – cukup ketikkan kata sandi Anda.
  • Biasanya gratis – tidak ada biaya untuk membayar atau mengatur akun Anda.

Apa yang harus dilakukan jika ada masalah dengan pembayaran atau pembelian?

Jika Anda memiliki masalah dengan pembelian Anda, hal pertama yang harus dilakukan adalah berkonsultasi dengan provider pembayaran elektronik tersebut dan mencoba untuk menyelesaikannya.

Bagaimana Fintech Bisa Mengancam Bisnis Perbankan di Masa Depan? Simak Ulasan Berikut Ini

Sudah lama sejak bank menemukan laporan tanpa kertas, pembayaran tagihan online, dan transfer dana elektronik, teknologi terus berkembang makin maju apalagi dengan hadirnya ponsel pintar yang sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat modern. Seiring dengan makin maraknya aplikasi baru untuk ponsel pintar tersebut, mulai banyak bermunculan perusahaan Fintech yang menawarkan kemudahan transaksi keuangan yang diyakini kedepan akan menjadi ancaman serius bagi bisnis perbankan itu sendiri.

Fintech, atau financial technology telah mengubah gaya hidup untuk hampir semua orang yang terhubung dengan sistem transaksi keuangan. Mari kita lihat bagaimana FinTech bisa mengancam bisnis perbankan itu sendiri kedepannya.

Fintech Dapat Menjangkau Masyarakat yang Tidak Punya Rekening Bank (Unbakable)

Dompet digital adalah konsep utama dari fintech dalam membawa layanan keuangan kepada masyarakat yang tidak memiliki rekening bank. Hal ini bahkan terjadi di seluruh penjuru dunia. Jaman dahulu, orang-orang yang punya rekening bank (bankable) saja yang bisa menikmati layanan non tunai ini, namun kini semua memanfaatkan operasi tanpa uang tunai.

Dengan dompet digital, Anda bisa mendapatka berbagai manfaat dan kemudahan dari provider penyedia layanan transaksi non tunai untuk pembelian online, transfer dana digital, dan bagian lain dari sistem perbankan. Provider e-money ini kini juga makin gencar melakukan promosi hingga membuat masyarakat seolah makin tergantung dengan layanan mereka.

FinTech Bisa Menjangkau Seluruh Lapisan Masyarakat Tanpa Perlu Buka Cabang Secara Fisik

Suka atau tidak suka, apakah Anda tinggal di kota besar ataupun di pelosok pegunungan sekalipun, uang adalah bagian integral dari kehidupan kita sehari-hari. Dengan miliaran pelanggan potensial di seluruh dunia, FinTech tidak perlu ke mana-mana atau buka cabang dimana-mana. Dengan berbasis teknologi, fintech bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpe perlu buka cabang atau mendekat secara fisik ke nasabahnya.

Fintech punya fitur yang lebih responsive dibandingkan dengan fitur online banking

Menggunakan layanan fintech, Anda seolah berhadapan dengan customer service yang stand by 24 jam. Anda bisa berkonsultasi dengan memanfaatkan fitur yang ada di ponsel pintar Anda. Tak hanya itu, fintech juga seolah paham tentang kebiasaan dan gaya hidup kita sehigga serig menawarkan produk yang memang kita butuhkan. Kecanggihan teknologi berbasis Artificial Intelligent (kecerdasan buatan) ini benar-benar sangat memanjakan nasabahnya.

Hampir semua layanan bank kini bisa dilakukan di fintech, kecuali penyaluran kredit korporasi

Jika bank dan fintech bis amelakukan dan menawarkan hal yang sama, maka yang berlaku adalah produk mana yang lebih canggih dan lebih kompetitif dalam memenuhi kebutuhan pelanggannya. Fintech kini bisa melakukan hampir semua layanan perbankan kecuali penyaluran kredit korporasi. Hal ini tentu saja menjadi ancaman serius bagi dunia perbankan.

Fintech lebih banyak menawarkan promo produk yang sagat memanjakan nasabahnya, jauh melebihi yang ditawarkan bank

Hal yang terakhir ini yang membuat kini makin banyak saja orang yang “lupa atau bahkan melupakan” bank dan beralih ke layanan fintech. Program diskon, promo dan berbagai reward lainnya sungguh sangat memanjakan pelanggannya dan membuat masyarakat maki tak bisa lepas dari produk dan layanan fintech tersebut.

Sekarang mari kita coba jujur, kalau mau membayar tagihan air, listrik, telp apakah kini menggunakan layanan banking online seperti misalnya klikbca atau menggunakan layanan Go Bills nya gojek? Begirupun saat berbelanja di minimarket, Anda lebih suka transaksi dengan Brizzi BRI atau dengan OVO Grab atau dengan Gopay Gojek? Bagi Anda pengguan aktif teknologi financial ini akan makin paham, bagaimana layanan bank yang dulu canggih itu kini makin terlihat kuno dan tidak kompetitif.

Artikel 6

Dompet Digital: Alasan Generasi Milenial Makin Tergantung Pada Transaksi Tanpa Uang Tunai

Selama beberapa tahun terakhir, ada banyak pembicaraan tentang generasi millennial (generasi yang lahir di akhir tahun 1990 hingga tahun 2000). Hal ini seharusnya tidak terlalu mengejutkan. Dengan kekuatan 200 jutaan penduduk Indonesia, di rentang tahun 2020-2030 nanti, generasi millennial akan mendominasi dalam struktur demografis penduduk di Indonesia. Prediksi ini juga perlu mengantisipasi bahwa pada tahun 2030 nanti, generasi millennial akan menjadi generasi berpenghasilan tertinggi dalam sejarah dan akan menjadi generasi yang akan membalikkan seluruh industri perbankan dengan ide kreatif berbasis teknologi yang makin canggih.

Salah satu transaksi canggih yang kini banyak ditawarkan adalah metode dompet digital. Layaknya sebuah dompet yang ada di dunia maya, digital wallet (dompet digital) ini merupakan aplikasi perangkat lunak komputer yang menyimpan informasi saldo ketersediaan uang penggunanya yang dilengkapi juga dengan informasi rekening bank yang terhubung dengan aplikasi ini dan informasi pengguna lainnya yang menunjang fitur keamanan yang tinggi untuk keperluan transaksi pembayaran non tunai. Salah satu contoh aplikasi dompet elektronik yang populer di dunia internasional adalah Paypal, sedangkan untuk transaksi lokal adalah Gopay dan Ovo.

Namun pertanyaannya adalah mengapa generasi milenium tidak memiliki uang tunai dan cenderung berorientasi terhadap dompet digital? Berikut ini ulasan pentingnya:

Uang tunai tidak aman

Salah satu alasan utama millennial beralih ke masyarakat tanpa uang tunai adalah karena masalah keamanan. Padahal Generasi Millenial juga yang paling mobile (bergerak dan bepergian, bukan hanya sekedar main ponsel). Meskipun Millennial memiliki penggunaan ponsel tertinggi juga.

Tidak seperti uang tunai, dompet digital telah mengambil beberapa langkah pengamanan. Teknologi ini mencakup maksimum security dan segala sesuatu proteksi mulai dari biometrik seperti sidik jari, otentikasi kata sandi, pemberitahuan waktu login dan tentunya tokenization. Ini berarti bahwa semua informasi sensitif disembunyikan dan diacak. Meskipun tidak 100 persen sempurna, generasi milenial merasa lebih aman daripada yang pernah dilakukan sebelumnya saat maraknya pencurian data seperti nomor kartu kredit dan sebagainya.

Transaksi digital memudahkan dalam memantau, dan melacak pengeluaran

Dilansir dari due.com, sekitar 67 persen dari generasi millennial di Negara maju seperti USA menginginkan fitur penganggaran digital, bersama dengan layanan seperti pembayaran mobile, mobile banking, dan manajemen asset (wealth management). Faktanya, sistem transaksi yang memiliki fitur-fitur seperti ini di mana Anda dapat menganggarkan, memantau, dan melacak pengeluaran Anda adalah poin penting bagi generasi millennial.

Kecepatan dan kenyamanan

Dompet digital memberi pengguna kemampuan untuk melakukan hampir semua transaksi yang sebelumnya dilakukan secara manual seperti, membuat anggaran, melacak pengeluaran, mengirim uang ke teman dan keluarga, membayar atagihan, belanja di toko, dan sebagainya Kenyamanan inilah yang telah membantu millennial makin tergantung pada keberadaan dompet digital ini.

Selain kenyamanan dompet digital, pelanggan juga menyukai kecepatan transaksi digital. Dalam kebanyakan kasus, mereka terjadi secara real-time. Mereka juga menyukai kenyataan bahwa itu mempercepat waktu yang selama ini mereka habiskan di mesin ATM.

Generasi Milenial memilih masa depan tanpa kertas

Millenial tidak hanya lebih memilih masa depan tanpa kertas. Mereka mengharapkan dunia di mana semua uang akan digital. Dan kini, tren teknologi dunia mulai mengarah kesana. HAnya tinggal sebagian kecil saja dari generasi ini yang masih ingin dibayar (mau menggunakan) transaksi dengan uang tunai, itupun karena tidak ada biaya transaksi atau prosedur yang merepotkan bagi mereka dan biasanya untuk transaksi yang kecil saja.

Dompet Digital, Solusi Terkini Saat Gaya Hidup Milenial Bertemu dengan Teknologi Masa Depan

Dalam sebuah survey yang dilansir dari due.com terungkap bahwa delapan dari sepuluh milenium melaporkan bahwa mereka akan dapat melakukan semua pembelanjaan mereka dan membayar tagihan mereka secara online melalui ponsel. Baru-baru ini, sebuah studi yang dilakukan oleh Linkedin dan Ipsos juga menemukan bahwa 32 persen kaum millenial membayangkan masyarakat tanpa uang tunai di mana mata uang tidak lagi diperlukan untuk transaksi.

Fakta hasil survey ini tampaknya bakal menjadi sebuah kenyataan. Satu dari empat milenium membawa uang tunai kurang dari $ 5, di Negara-negara maju seperti Swedia, Belgia, Belanda, Prancis, Kanada, dan Singapura dimana mereka secara aktif menjalani gaya hidup menuju masyarakat tanpa uang tunai. Namun tahukah Anda alasan mereka menjalani gaya hidup seperti itu? Berikut ini ulasannya:

Transaksi dengan dompet digital banyak promonya, sedangkan Anda tidak mendapatkan imbalan jika menggunakan uang tunai

Layaknya sebuah dompet yang ada di dunia maya, digital wallet (dompet digital) ini merupakan aplikasi perangkat lunak komputer yang menyimpan informasi saldo untuk melakukan transaksi secara elektronik (tanpa uang tunai). Ini ada hal lain yang tidak bisa dilakukan dengan uang tunai; pelanggan tidak dapat memperoleh imbalan seperti mendapatkan 2% uang kembali dari pembelian atau promo menarik lainnya. Selain itu dompet digital juga memberi pelanggan kesempatan untuk berpartisipasi dalam program hadiah, dan itu jelas membuat mereka lebih tertarik.

Misalnya saja, program Ovo yang menawarkan berbagai potongan harga saat pertama kali install aplikasi ini, begitupun Gopay juga memberikan diskon hingga puluhan ribu bagi pengguna yang baru pertama kali melakukan transaksi dengan aplikadi dompet digital ini.

Selain itu program reward dompet digital ini juga bekerja seperti program hadiah kartu kredit berbasis poin. Setiap kali Anda melakukan pembelian atau transaksi dengan dompet digital ini, Anda berpeluang mendapatkan reward yang lain lagi.

Generasi Millenial menuntut layanan digital

Layanan digital memang lebih menarik. Secara fisik tak tampak sehingga praktis namun memberikan hasil dan layana yang lebih dari transaksi tunai. Inilah kenapa generasi millenial menuntut layanan digital. Bahkan saat ini layanan digital ini sudah berkembang menjadi platform aplikasi yang lainnya mirip dengan apa yang dilakukan mobile banking.

Karena Millennial tumbuh dengan lebih banyak teknologi daripada generasi sebelumnya, hal ini seharusnya tidak mengejutkan. Mereka bersedia merangkul teknologi baru dan menantang status quo jika itu jika hal itu dirasa mampu meningkatkan kehidupan mereka atau setidaknya membuat aktivitas mereka lebih praktis dan nyaman.

Masih terkait survey skala global, di banyak Negara maju bahkan sekitar 73 persen generasi millenial ini lebih tertarik pada layanan keuangan baru dari Google, Apple, Amazon, PayPal, atau Square daripada dari bank nasional mereka sendiri.

Generasi milenial siap menyongsong masa depan tanpa kertas

Millenial tidak hanya lebih memilih masa depan tanpa kertas. Mereka bahkan mengharapkan dunia di mana semua uang akan berubah wujud menjadi uang digital. Seiring teknologi yang terus berkembang hingga mampu membuat dompet digital lebih aman, nyaman, dan terjangkau, banyak generasi milenium mulai bisa membaca celah potensi bisnis dari transaksi non tunai ini.

Masih ingat, tentang sebuah survey yang dilakukan oleh jaringan kartu kredit Visa pada tahun 2012, dimana Visa merilis sebuah laporan berjudul, Connecting with the Millennials. Di dalamnya, ditemukan bahwa mayoritas genarasi milenial di Negara yang demografisnya mayoritas anak muda ini, banyak yang meyakini masa depan tanpa uang tunai.

Keuntungan dari Pembayaran Non Tunai dan Perangkap yang Harus Anda Waspadai

Ada keuntungan dan kerugian dari perubahan tren teknologi menuju digitalisasi keuangan. Inilah yang perlu diketahui oleh Anda baik sebagai generasi “orang tua” maupun Anda yang masuk kategori milenial.

Ketika banyak negara mulai bergerak ke arah lingkungan tanpa uang setelah demonetisasi, maka muncul kekaguman dan kebingungan pada awalnya. Saat transaksi non tunai masih baru dirilis beberapa tahun belakangan, sempat muncul kekhawatiran, apakah penekanan pada transaksi online memberikan kenyamanan dan manfaat nyata atau hanya menambah stres dan biaya tambahan saja?

Untuk mendorong gerakan menuju ekonomi tanpa uang tunai, provider layanan transaksi non tunai dalam berbagai bentuk telah memberikan banyak diskon dan gratis pada transaksi digital. Hal ini sekaligus untuk membuka keyakinan publik bahwa layanan transaksi non tunai ini aman dan nyaman.

Tetapi apakah resikonya cukup sebanding dengan manfaat yang didapatkan? Mari kita lihat ulasan tentang keuntungan dan kerugian dari digitalisasi keuangan berikut ini:

Kenyamanan

Kemudahan melakukan transaksi keuangan mungkin merupakan motivator terbesar untuk melakukan transaksi secara digital. Anda tidak perlu lagi membawa setumpuk uang tunai, kartu ATM, atau bahkan mengantri untuk penarikan ATM. Ini juga merupakan pilihan pengeluaran yang lebih aman dan lebih mudah saat Anda bepergian. Ini akan sangat berguna jika terjadi keadaan darurat, misalnya, di rumah sakit. Anda memiliki kebebasan untuk bertransaksi kapan pun dan di mana pun yang Anda inginkan. Anda tidak harus hadir secara fisik untuk melakukan transaksi atau dipaksa untuk melakukannya hanya selama jam kantor saja.

Diskon

Banyak penyedia layanan dompet digital yang menawarkan jasa mereka dengan berbagai penawaran diskon yang menarik. Yang paling agresif tentunya adalah rivalitas antara Gopay dan Ovo. Ovo yang unggul di berbagai penawaran menarik untuk layanan transportasi, sedangkan Gopay makin banyak diskonnya bagi pengguna GoFood.

Disisi lain, layanan transaksi online juga bisa digunakan untuk menghemat tiket kereta api, tol, atau membayar tagihan lainnya yang dapat membantu memotong biaya Anda.

Mudah dalam melakukan pelacakan (history/riwayat transaksi)

Jika semua transaksi dicatat, akan sangat mudah bagi orang untuk melacak pengeluaran mereka. Ini juga akan membantu saat membuat rencana keuangan jangka pendek. Hal ini sekaligus memudahkan kita dalam aktivitas disiplin anggaran.

Catatan tertulis akan membantu Anda mengawasi pengeluaran Anda dan ini akan menghasilkan penganggaran yang lebih baik. Berbagai aplikasi dan alat akan membantu orang menganalisis pola pengeluaran mereka dan memunculkan wawasan yang baik selama setidaknya satu tahun kedepan. Pengeluaran yang terkendali juga merupakan investasi yang baik bagi Anda. Jika jumlah uang tunai tidak mengalir secara fisik keluar dari dompet dan setiap transaksi digital mudak dikontrol lewat kartu seluler, hal kemungkinan juga akan menurunkan pengeluaran Anda.

Kemudahan yang diberikan transaksi digital tersebut perlu diimbangi dengan pengetahuan tentang resiko yang bisa saja muncul seperti berikut ini:

Privasi

Pembayaran elektronik berarti lebih sedikit privasi. Anda mungkin mempercayai provider emoney yang menangani data Anda, dan Anda mungkin tidak menyembunyikan apa pun, tetapi informasi pembayaran Anda bisa muncul dengan cara yang tidak mungkin untuk diprediksi. Uang tunai memungkinkan Anda untuk menghabiskan uang dan menerima dana secara anonim.

Peretasan (hacking)

Peretas adalah perampok bank dan perampok dunia elektronik. Dalam masyarakat era digital dengan sistem transaksi tanpa uang tunai, konsekuensinya lebih tinggi jika dimana seorang hacker bisa saja menguras akun Anda hingga Anda tidak punya saldo lagi untuk dibelanjakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.